Sabtu, 18 Desember 2010

NUSYUZ, SHIQAQ DAN FUNGSI HAKAMAIN DALAM PENYELESAIANNYA

A. Nusyuz

Pengertian nusyus dan bentuknya.

Nusyus adalah keadaan dimana suami atau isteri meninggalkan kewajiban bersuami isteri sehingga menimbulkan ketegangan rumah tangga keduanya. Menurut Hussein bahreisj nusyus adalah suatu sikap membangkang atau durhaka dari isteri kepada suaminya atau terjadi penyelewengan yang tidak dibenarkan oleh suami terhadap isterinya.

Nusyus dapat datang dari pihak isteri maupun suami, nusyus dari isteri dapat berbentuk menyalahi tata cara yang telah diatur oleh suami dan dilaksanakan oleh isteri yang sengaja untuk menyakiti hati suaminya.

Sedangkan nusyus dari pihak suami terhadap isterinya adalah dari yang selama ini bersifat lembut dan penuh kasing saying lalu berubah menjadi kasar, atau suami yang biasanya bersikap ramah dan bermuka manis berubah bersikap tak acuh dan bermuka masam atau menentang. Dan kelalain suami untuk memenuhi kewajibannya pada isteri baik nafkah lahir maupun batin.



Nusyusnya istri dan cara penyelesainya

Dasar hukum nusyus yang datangnya dari istri ditegaskan dalam al-qur’an surat an-nisa’ ayat 34 yaitu :

Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.(QS An-nisa’ : 34)



Dengan diwahyukannya surat al-Nisa' ayat 34, agar seorang muslim memahami dan mampu bernbuat bijak jika terjadi permasalah rumah tangga. Seorang suami tidak boleh serta merta melukai istri dengan pukulan yang menyakitkan. Karena Islam tidak mengajarkan yang demikian, telah ada aturan yang baik dan benar ketika suami tengah menghadapi permasalahan seperti itu. Meskipun memukul istri itu dibenarkan dalam Islam, namun memukul yang tidak sampai melukai istri dan dengan niatan mendidik.
Ketika permasalahan yang dihadapi suami istri tak kunjung usai, belum menemukan jalan keluar, maka Islam pun telah mengatur dengan begitu rapi yaitu dengan mendatangkan dua hakim (hakamain) dari pihak suami maupun istri yang berfungsi untuk memberikan solusi atau jalan tengah ketika permasalahan itu sedang alot dari pasangan suami istri.

Nusyus muncul karena adanya suatu persoalan yang terjadi dirumah tangga suami isteri tersebut. Mungkin salah satu diantara mereka merasa ridak puas dengan sikap dan tingkah laku yanga lain, sehingga gajalan-ganjalan ini menimbulkan perubahan sikap seorang diantara keduanya.

Jika sikap ini muncul dari pihak isteri, maka Allah SWT telah memberikan jalan keluar yang baik seperti yang ditegaskan dalam Al-Qur’an an-Nisa’ : 34. Dalam ayat tersebut ada tiga langkah yang anjurkan Allah bagi setiap suami, yaitu:

a) Member nasehat bagi mereka semaksimal mungkin, dengan mengingatkan kewajiban yang harus dipenuhi oleh seorng isteri.

b) Jika setelah dinasehati isteri tidak berubah sikapnya. Maka suami memisahkan tempat tidurnya.

c) Jika sikap isteri belum berubah, maka Allah SWT mengijinkan untuk memukul mereka sekedar member peringatn yang sifatnya tidak melukai.

Apabila pada langkah-langkah awal telah terjadi perubahan, maka sang suami tidak dibenarkan untuk sewenang-wenang dengan melakukan sesuatu yang menyusahkan atau menyakiti isteri.

Ada beberapa perbuatan yang terrmasuk nusyuz yang dilakukan oleh isteri antara lain sebagai berikut :

1. Istri tidak mau pindah mengikuti suami untuk menempati rumah yang telah disediakan sesuai dengan kemampuan suami, atau istri meninggalkan rumah tanpa izin suami.

2. Apabila keduanya tinggal di rumah istri atas izin istri, kemudian pada suatu ketika istri melarangnya untuk masuk ke rumah itu dan bukan karena hendak pindah rumah yang disediakan oleh suami.

3. Istri menolak ajakan suaminya untuk menetap di rumah yang disedikannya tanpa alasan yang pantas.

4. Apabila istri bepergian tanpa suami atau mahramnya walaupun perjalanan itu wajib seperti haji, karena perjalanan perempuan dengan tidak suami atau mahramnya termasuk maksiat.



Membimbing istri yang sedang nusyuz

Apabila istri telah kelihatan durhaka terhadap suaminya, hendaklah suaminya itu mengajarnya menurut aturan-aturan yang ditentukan dalam agama, di antaranya sebagai berikut :

1. Menegur dengan kata-kata yang sopan dan lemah lembut serta secara peri kemanusiaan. Hendaklah memperingatkannya agar ia taat karena hal itu adalah kewajiban seorang istri kepada suaminya, kecuali bila suami menyuruhnya melakukan suatu kejahatan, atau melarang berbuat kebajikan, umpamanya mendengarkan pelajaran-pelajaran dan lain-lain. Dalam hal seperti itu tidak wajib mengikuti suami.

2. Menghentikan memberi nafkah selama ia tidak mau berhenti dari kedurhakaannya.

3. Mengasingkan diri dari tempat tidur pada waktu tidur, bila dengan kata-kata atau dengan penghentian pemberian nafkah, tidak juga menghentikan kedurhakaannya.

4. Memberikan pukulan yang tidak membahayakan, bila dengan pelajaran yang tiga macam itu, ia tidak juga mengerti. Ibnu Hajar berkata, “Dalam sabda Nabi yang mengatakan: orang-orang baik di antara kamu secara garis besar memukul itu dibenarkan, dengan motif demi mendidik jika suami melihat ada sesuatu yang tidak benar yang seharusnya istri harus taat. Tetapi jika dirasa cukup dengan ancaman, maka itu adalah lebih baik.



Sebagaimana firman Allah swt dalam surat Al-Nisa’ ayat 34:

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh Karena Allah Telah memelihara (mereka). wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.

Dalam memukul, janganlah sampai melukai badannya, jauhilah muka dan tempat-tempat lain yang mengkhawatirkan, karena tujuan memukul bukanlah untuk menyakiti, tetapi untuk memberi pelajaran.

Apapun yang mungkin dapat sampai kepada tujuan yang cukup dengan ucapan, tidak boleh beralih kepada suatu perbuatan. Sebab terjadinya suatu tindakan, bisa jadi menyebabkan kebencian yang justru bertentangan dengan prinsip bergaul yang baik yang selalu dituntut dalam kehidupan berumah tangga. Kecuali dalam hal yang bersangkutan dengan kemaksiatan kepada Allah.



Bagaimana hukumnya seorang suami berdiam diri atau tidak mau berbicara kepada istri yang sedang nusyuz, haram ataukah makruh?

Dalam hal ini ada dua pendapat. Pertama: menurut Imam Syafi’i, tidak berbicara kepada istri yang sedang nusyuz hukumnya tidak haram ketika tidak lebih dari tiga hari, jika lebih dari tiga hari maka suami berdosa. Kedua: menurut Imam Rafi’i, jika suami tidak berbicara dengan istri secara tidak disengaja maka tidak haram, namun jika memang disengaja maka hukumnya haram. Ibnu Rif’ah berkata, “letak perbedaan pendapat haram atau tidak itu ketika di atas tiga hari, adapun dalam waktu tiga hari hukumnya tidak haram.” Imam Nawawi menegaskan bahwa yang benar secara pasti adalah haramnya tidak berbicara lebih dari tiga hari, sesuai dengan hadis Nabi yang artinya, tidak halal bagi orang muslim berdiam diri kepada saudaranya selama lebih dari tiga hari.



Nusyus suami dan cara penyelesainya

Adapun nusyus yang datangnya dari suami ditegaskan dalam Al-qur’an surat An-nisa’ ayat 128



Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, Maka tidak mengapa bagi keduanya Mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS An-nisa’ : 128)



Batasan Nusyuz Istri

Sudah menjadi kebiasaan masyarakat bahwa memasak, mencuci dan menyapu adalah tugas isteri. Sebenarnya rutinitas tersebut adalah kewajiban suami. Andai rutinitas ini diperintahkan suami kepada isteri, maka isteri tidak wajib memenuhinya. Pengingkaran atas perintah ini tidak termasuk nusyuz (melawan). Adapun batasan ketaatan yang harus dijalani seorang isteri terhadap suami adalah sepanjang kewajiban-kewajiban isteri terhadap suami selama tidak berupa maksiat dan di luar kemampuan.
Dasar Hukum

Hasiyah al Bajuri juz 129

والثانى من جهة الزوجة ومعنى نشوزها إرتفاعها عن أداء الحق الواجب عليها (قوله إرتفاعها عن أداء الحق الواجب عليها) أي هو طاعته ومعاشرته بالمعروف وتسليم نفسها له وملازمة المسكن.

Apabila nusyus dari pihak suami, maka peneyelesainya seperti ditegaskan dalam QS An-Nisa’ : 128 yaitu: isteri diberi hak mengadakan perjanjian dengan suaminya guna kebaikan hubungan suami-istrinya terserah pada kesepakatn bersama misalnya isteri bersedia dikurangi hak-haknya asalkan suami baik kembali, suami berjanji dengan ikrar tidak akan mengulangi lagi.



B. Syiqaq

Pengertian syiqaq

Syiqaq, berasal dari bahasa Arab “syaqqa” ~ “yasyuqqu” ~ “syiqaaq”, yang bermakna “al-inkisaar”, pecah, berhamburan. Sedang “syiqaq” menurut istilah oleh ulama fiqhi diartikan sebagai perpecahan/perselisihan yang terjadi antara suami isteri yang telah berlarut-larut sehingga dibutuhkan perhatian khusus terhadapnya. Sejalan dengan pengertian tersebut “syiqaq” menurut penjelasan pasal 76 (1) UU No. 7/1989 adalah perselisihan yang tajam dan terus menerus antara suami isteri.

“syiqaq” berarti “perselesihian” atau “retak”. Menurut istilah syiqaq dapat bearti krisis memuncak yang terjadi antara suami-istri sedemikian rupa, sehingga antara suami-istri terjadi pertentangan pendapat dan pertengkaran. Menjadi dua puhak yang tidak mungkin dipertemukan dan kedua belah pihak tidak dapat mengatasinya. Sedangkan menurut istilah fiqih, syiqaq adalah perselisihan suami-istri yang diselesaikan oleh dua orang hakam, yaitu seorang hakam dari pihak suami dan seorang hakam dari pihak istri.



Dasar hukum tentang syiqaq terdapat dalam Al-qur’an surat An-nisa’ ayat 35

Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, Maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. jika kedua orang hakam itu bermaksud Mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.



Perkara Syiqaq di Indonesia.

Demikian halnya para ahli fiqih, maka pada Peradilan Agama di Indonesia juga terdapat dua pendapat dalam masalah syiqaq. Pendapat yang pertama yang banyak dianut (hakam dengan arti wakil), kemudian pendapat kedua yang banyak penganutnya (hakam dengan arti hakim), bahkan Mahkamah Tinggi Islam mengikuti kedua pendapat ini, dalam keputusannya 12 januari 1939 nomor 3, dan tanggal 10 Maret 1951 nomor 6.

Akan tetapi sampai sejauh ini belum saja diketahui sikap Mahkamah Tinggi Islam apabila hakam-hakam yang ditunjuk ternyata tidak sanggup lagi mengambil keputusan. Apabila hakamain tidak sanggup menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kasus Shiqaq ini maka jalan terakhir yang bisa ditempuh adalah dengan jalan thalaq atau cerai. Islam sekalipun memperkenankan memasuki cara ini, tetapi membencinya. Tidak mensunnatkan dan tidak menganggap satu hal yang baik. Bahkan Nabi sendiri mengatakan yang artinya, “Perbuatan halal yang teramat dibenci Allah, ialah Thalaq.” (Riwayat Abu Daud).



C. Hakamain (pengertian, fungsi dan tugas penyelesaian kasus syiqaq).

a. Pengertian hakamain

Menurut bahasa hakamain bearti dua orang hakam, yaitu seorang hakam dari pihak suami dan seorang hakam dari pihak isteri untuk menyelesaikan kasus syiqaq.

Arti hakam yang tersebut pada ayat 35 surat An-Nisa’ para ahli fiqh berbeda pendapat:

Ø Menurut pendapat imam Abu Hanifah, sebagaian pengikut imam hambali, dan qoul qadim dari pengikut imam Syafi’I, “hakam” itu berarti wakil. Sama halnya dengan wakil, maka hakam tidak boleh menjatuhkan talak kepada pihak isteri sebelum mendapat persetujuan dari pihak suami, begitu pula hakam dari pihak tidak boleh mengadakan khuluk sebelum mendapat persetujuan dari isteri.

Ø Menurut imam malik, sebagain lain pengikuta imam hambali dan qoul jadid pengikut imam Syafi’i. hakam itu sebagai hakim, sebagai hakim maka hakam boleh memberi keputusan sesuai dengan pendapat keduanya tentang hubungan suami-isteri yang sedang berselisih itu, apakah ia akan memberi keputusan perceraian atau ia akan memerintahkan agar suami isteri itu berdamai kembali.



Fungsi dan tugas hakamain penyelesaian kasus syiqaq

Peranan hakam sebagai mediator (pemberi saran) dalam penyelesaian sengketa perceraian atas dasar syiqaq, sangatlah bermanfaat dan berarti dalam memberi masukan pada hakim guna ikut menyelesaiakan perselisihan yang terjadi. Kewenangan hakam selaku mediator dalam penyelesaian sengketa perceraian hanya sebatas memberikan usulan pendapat dan pertimbangan dari hasil yang telah dilakukan, kepada hakim. Dan Undang-undang tidak memberikan kewenangan kepadanya untuk menjatuhkan putusan.

Menurut firman Allah diatas, jika terjadi kasus antara suami istri, maka diutus seorang hakam dari pihak suami da seorang hakam dari pihak istri yang berfungsi untuk mengadakan penelitian dan penyelidikan tentang sebab-musabab terjadi syiqaq dimaksud, serta berusaha mendamaikannya, atau mengambil prakarsa putusnya perkawinan kalau sekiranya jalan inilah yang terbaik.

Terhadap kasus syiqaq ini, hakam bertugas menyelidiki dan mencari hakekat permasalahannya, sebab-sebab timbulnya persengketaan, dan berusaha sebesar mungkin untuk mendamaikan kembali. Agar suami istri kembali hidup bersama dengan sebaik-baiknya, kemudian jika dalam perdamian itu tidak mungki ditempuh, maka kedua hakam berhak mengambil inisiatif untuk menceraikannya, kemudian atas dasar prakarsa hakam ini maka hakim dengan keputusannya menetapkan perceraian tersebut. Hakam main (kedua hakam) itu boleh memutuskan perpisahan antara suami istri, tanpa suami menjatuhkan talaq.

Catatan:

Kedudukan carai sebab kasus syiqaq adalah bersifat ba’in. artinya: antara bekas suami istri hanya dapat kembali sebagai suami istri dengan akad nikah baru.





http://gatheel.multiply.com/journal/item/25/fiqh_munakahat

http://pojokhukum.blogspot.com/2008/03/mediasi-dalam-penyelesaian-sengketa.html

http://sholehhadi.blogspot.com/2009/03/nusyus-syiqaq-dan-fungsi-hakamain-dalam.html

http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=565

http://pesantren.or.id.29.masterwebnet.com/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/masail/aula/tahun_2004/nikah-12.single

http://alislamu.com/index.php?option=com_content&task=view&id=414&Itemid=6

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar